tentang ingatan yang kemarin

ini kita,
yang kemarin
bertemu, tanpa
sengaja

kita yang kemarin
mengelilingi kota
iya, berdua
bersama. kau dan aku

ini aku,
si bodoh yang tidak pernah bosan menunggu mu
ntah kabar, atau bahkan kedatangan mu

itu kamu, 
yang senantiasa tanpa izin
berkecamuk di kepala ku

" 5 menit lagi aku berangkat ya "
ujar nya lewat telepon 

" iya, awas saja sampai bohong lagi. Maka akan ku patahkan jari-jari tangan mu "

" tidak apa, biar nanti kalau aku dirawat, maka kamu yang akan mengurusku "

" ih urus saja dirimu sendiri, katanya kamu itu serba bisa, kenapa jadi menyuruhku mengurusmu. Sudah sana berangkat, aku hampir berlumut nih nunggu kamu "

" iya sayang "
" oke kuda putih, mari kita jemput tuan putri "
(candanya yang membuat ku yang seharusnya kesal, malah jadi tertawa)

iya
begitulah kami
sebentar bertengkar, sebentar akur

ia yang paling bisa membuat ku kesal,
tapi ia juga yang paling pandai membuat ku tertawa 

tidak pernah sekalipun terlintas di benak ku
untuk menduakannya, apalagi meninggalkannya. 
Aku ingin ia bersama ku, selamanya. 

ia pun begitu, katanya

"mana mungkin aku meninggalkan mu, kamu adalah aku versi lebih baik, jadi untuk apa aku mencari selain kamu? "

setahun setelah ia bilang begitu, ternyata ia memilih meninggalkan ku

ia pergi bukan pada pelukan wanita lain
ia pergi bukan tanpa kejelasan, tapi kini

ia berpulang
pulang kerumah yang sesungguhnya 
pulang pada tempat terjauh
yang tidak akan pernah bisa ku datangi sesekali, jika aku merindukan nya

ia kini berpulang, dipeluknya ia pada dekapan hangat Tuhan.

aku mencari dimana rumahnya yang sekarang, tapi tak kutemukan apapun disana. 
tak ada lagi gitar kesayangan milik nya, tak ada lagi sepeda motor yang biasa ia pakai untuk menjemput ku kerumah. 

aku lupa atau memang belum melupakan nya? 
aku kebingungan, harus kemana lagi aku mencarinya

mau sejauh apapun aku berkeliling dan bertanya, tetap saja tidak akan ada seorang pun yang tahu dimana ia sekarang. 

" ikhlas kan nak, terimalah kenyataannya bahwa sekarang ia sudah tidak bisa memeluk mu "

(ujar Ibunya) 

" tapi bu, ia bilang tak akan pernah meninggalkan ku, aku yakin ia akan datang menjemput ku bu, mengajak ku berkeliling naik sepeda motor kesayangan nya. Aku yakin ia akan datang bu"

lihat, betapa egoisnya aku
aku yang masih menunggu, dan percaya bahwa ia akan datang dan memeluk ku

" namun, meratapinya tak akan membawa ia kembali pada mu nak "

(aku menangis sejadi-jadinya dalam dekapan wanita paruh baya itu) 

perlahan aku menyadari, bahwa segalanya itu fana
tidak ada yang benar-benar bisa ku miliki 

Setiap jalan yang pernah kita lewati, kini terasa sunyi. Sebab tidak ada lagi suara knalpot motor mu yang tiba-tiba mengebut kala langit mendadak mendung

tidak lagi ada petikan gitar dan suara lembut mu yang menyanyikan ku sebuah lagu kala ku sedih, kamu telah pergi.


aku menginginkan ia untuk selalu bersama ku
tapi Tuhan bilang, tidak untuk sekarang. 











Komentar

Postingan populer dari blog ini

laut, dan pertanyaan itu

from strangers to friend, friend into lover, n strangers again