from strangers to friend, friend into lover, n strangers again
NOTED : SAMBIL DENGERIN INI YAAAA
bukan hanya sekedar selembar daun, yang mampu disapu dengan hembusan angin,
tapi hampir menyentuh 2 tahun, yan.
sekali lagi, hampir menyentuh 2 tahun.
Hampir 2 tahun yan, aku merawat perasaan ini, belajar bertumbuh, belajar merawat, belajar untuk terus berubah.
Bukan hanya waktu 1 minggu, yang mampu di lupakan begitu cepat dengan logika, yan.
Hampir 2 tahun, aku meyakinkan diri ku
bahwa kesetiaan akan membawa semua ini pada jalan nya.
Aku tidak mencintaimu dengan cara setengah, yan
Aku mencintaimu dengan utuh, dengan seluruh wujud terbaik yang ku punya.
Aku mencintaimu dengan penuh doa,
Aku mencintaimu dengan segala mimpi, yang selalu ada kamu di dalam nya.
Kamu, membawaku sejauh ini hanya untuk hancur.
Yan, Tuhan bahkan sudah hafal bagaimana aku akan menyebutmu dalam doa ku,
Tuhan bahkan hampir bosan mendengarnya,
Tuhan bahkan hafal betul bagaimana nadaku merapal doa-doa tersebut.
Yan, aku mencintaimu bukan karena segala kesempurnaan yang kamu miliki,
Aku mencintaimu, karena aku berfikir kamu mampu menjadi rumah yang aman.
Seperti janji yang kamu ucapkan, kala itu.
Tapi ternyata, kamu adalah badai yang datang disaat aku mulai membangun pondasi itu, yan.
Kamu adalah gempa bumi, yang datang ketika aku menyusun semua itu dengan penuh kehati-hatian.
Bangunan itu runtuh, yan
Kamu yang meruntuhkan semua itu.
Kamu menghancurkan rumahku,
rumah yang hampir sempurna, yan.
Rumah yang sedang ku usahakan hangat di dalam nya,
Rumah yang sedang ku tata ruang nya,
Rumah yang sedang ku cicil satu persatu perlengkapan nya, supaya aku mampu nyaman di dalam rumah itu bersama mu, yan.
Yan, aku tidak mencintaimu dengan setengah,
tidak secuil, atau bahkan sisa.
Aku mecintaimu dengan utuh, yan.
Ketika aku berfikir, semuanya akan mengarah pada kebahagiaan, ternyata aku salah.
Tidak ada lagi tempat yang aman dalam diriku, yan.
Semuanya runtuh, luruh
Hatiku, harga diriku, bahkan kepercayaanku pada seluruh hal, semuanya runtuh.
Bersama badai yang kamu bawa.
Bahkan yang lebih aneh nya, aku tetap diam dan
Aku tetap menulis nama mu, pada setiap bait tulisanku.
Aku tetap menoleh ke arah yang sama, yan
tapi kali ini tidak untuk berharap kembali.
Melainkan untuk melihat dengan mataku sendiri,
Melihat betapa tidak peduli nya kamu,
Melihat betapa baik nya hidup mu, setelah melepasku.
Mungkin, maksudnya membuang, ya?
Melihat, seberapa jauh kamu mampu berjalan tanpa menoleh ke arah ku, lagi...
Perjalanan ini mungkin begitu singkat untuk mu, sebab kamu tidak pernah benar-benar ada bersama ku, di dalam perjalanan itu.
Tapi, hampir 2 tahun aku mencintai setiap denyut nadi mu, disetiap hembusan nafas, pengorbanan yang sudah kita lalui.
Tapi, ternyata itu semua tidak pernah cukup untukmu, yan.
Dan sekarang cukup, yan.
Aku tidak ingin lagi hancur, dengan cara yang sama.
Yan, maaf untuk setiap nama mu yang ada pada bait tulisan ku ya.
aku mencintaimu, dan itu cukup membuatku sakit.
see u, when i see u.
Komentar
Posting Komentar