Bait yang hilang

Ada banyak sekali ketakutan - ketakutan tidak masuk akal yang selalu aku cemaskan 

Ada ribuan keinginan yang sampai sekarang tidak mampu aku wujudkan 

Kalimat patah yang setiap harinya kutuliskan untuk menggambarkan bagaimana aku saat sedang jatuh - jatuhnya. 

Kalimat - kalimat konyol yang selalu kau kirim untuk membuat senyumku kembali merekah, kini ia hilang

Tak muncul sepatah pun, tetapi hilang seutuhnya. 

Kemudian dengan penuh keberanian, aku membaca ulang bait demi bait itu

Semakin di ingat, semakin sakit rasanya. 

Kala itu 

Kau datang seakan - akan hujan yang turun dikala para petani sedang meringkuk kekeringan 

Dan aku menyambut dirimu, dengan penuh rasa syukur, seperti penantian panjang padi yang kehausan air

Saat ini

Kau mendadak hilang, tak bisa ku temukan 

Kau pergi seakan - akan hujan tak lagi dibutuhkan

Menghilang setelah luka lama ku membaik, dan menciptakan luka baru dengan seenaknya.

Khalayak menghilang, ku mohon kamu tidak perlu mengikuti mereka , kembali lah mari kita bicarakan pelan - pelan

Aku tahu, bait - bait yang ku tulis ini terdengar seperti rengekan tidak tahu diri, untuk seseorang yang sudah dibuang sejauh mungkin. 

Terdengar juga seperti mengemis, mau bagaimana pun yang ku mau kamu

Tidak perduli semesta tak merestui, jangan pergi. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

laut, dan pertanyaan itu

from strangers to friend, friend into lover, n strangers again

tentang ingatan yang kemarin