Ketika rumah bukanlah rumah
Malam ini rasanya begitu dingin ketika udara perlahan membelai kulit ku
Ada ribuan pertanyaan, yang bahkan tuan nya sendiri tak tahu bagaimana menjawabnya
' Apa? Kenapa aku? Haruskah aku? Salah ku apa? Ko nasibku gini '
Begitu kata gadis yang malam harinya diselimuti nestapa
Tak habis habisnya menangis, meminta supaya Tuhan kuatkan hati dan pikirannya, ia berharap hidupnya tak akan berakhir cepat hanya karena Ia sedang putus asa
Suaranya begitu ringkih, jeritannya nyaris tak bisa di dengar ' Aku harus apa? ' Keluhnya pada Yang Kuasa
Ia kemudian membuka ponsel nya, melambai dengan pelan dan bergetar jari jemarinya di atas ponsel, ia ketakutan setengah mati. Mencari teman baik untuk jadi tempat berbagi, dihubungi nya Liora
Naysyla : Halo ra, ada waktu sebentar tidak? Aku ingin curhat, hidupku sedang hancur hancurnya
Liora : Kamu memang nya kenapa nay?
Naysla : Aku dimarahi habis habisan oleh ayah ku, hanya karena aku melakukan kesalahan kecil. Bahkan tadi wajahku hampir disiramnya dengan air panas, aku merasa putus asa sekali ra, ingin menyakiti diri sendiri rasanya
Liora : Oh begitu, yasudah sabar saja namanya juga hidup, kamu harus lebih banyak bersyukur nay, karena banyak diluar sana mereka yang sedih karena tak memiliki ayah
Naysyla : Oke, terimakasih ra
Ternyata Kenapa yang diungkapkan bukan lah bentuk dari rasa kepedulian, melainkan hanya formalitas sebagai seorang teman
Kenapa yang dimaksud rupanya hanya sekadar rasa ingin tahu, tak lain tak lebih
Gadis itu semakin merasa hidup tak pernah berpihak kepada dirinya, meskipun sedikit
Jawaban dari orang tepercaya rupanya hanya bentuk basa basi karena tak enak hati
'Bisakah sekali saja dunia memihak kepadaku?' Naif sekali diri ini, setiap saat mengeluhkan hal hal remeh
' mampukah aku melewati seluruh badai nestapa ini? '
Setiap hari tak pernah yakin dengan apa yang akan terjadi hari esok
' Kemana rasanya berada dirumah ternyaman bersama yang disayang? '
Bagaimana rasanya ketika kamu hidup dan melakukan segala hal dirumah, yang nyatanya rumah itu bukanlah benar benar rumah
Bukan tempat yang bisa dijadikan sandaran, dinding dindingnya bahkan senantiasa memantulkan suara tangisan.
Rumah yang ia harap adalah rumah yang ketika lelah ia bisa tersenyum, karena dikelilingi orang terkasih,
Ia ingin berada di rumah yang mana ia setiap hari senantiasa bersyukur hidup makmur nan damai
Tapi apa yang ia harap dan pikirkan rupanya terlalu sulit di wujudkan, untuk ia yang hidupnya bahkan di penuhi kekacauan
Ia ketakutan setiap hari, berpikir untuk mengakhiri diri dengan pisau atau minum obat sampai over dosis
Syukur syukur dirinya takut merasakan perihnya nadi disayat pisau, meskipun setiap hari selalu dihantuin rasa ingin bunuh diri
Tetapi aku bersyukur karena kamu, dia atau siapa pun itu masih mau melewati satu hari lagi setiap harinya
Sampai kamu sudah berani bertahan sejauh ini, bagiku itu adalah bentuk perjuangan. Jangan melulu cemas, nanti ketika Tuhan sudah katakan pulang ' baru kamu boleh menyerah '
Hay pay
BalasHapus